Pendidikan Online: Cerita dari Sugapa

Sore itu saya duduk di teras rumah dengan laptop tua yang baterainya sudah tidak tahan lama. Koneksi internet seadanya dari modem kecil, kadang naik turun ngikutin cuaca. Tapi di layar itu, saya ngikutin kuliah dari dosen yang jaraknya ribuan kilometer. Itulah realitas pendidikan online yang saya jalani sejak 2020, ketika pandemi memaksa kita semua beradaptasi. Tinggal di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, bukan alasan untuk berhenti belajar.
Belajar dari Keterbatasan: Internet sebagai Jembatan Ilmu
Bagi mahasiswa di daerah seperti saya, pendidikan online bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Sejak 2020, saya mengandalkan platform seperti Moodle dan Google Classroom untuk mengakses materi kuliah. Tentu tidak semudah di kota besar. Sinyal sering ilang, listrik padam bergilir, dan biaya kwota jadi beban tambahan. Dari setiap kendala itu, saya justru belajar manajemen waktu dan kemandirian. Saya biasa mengunduh materi di malam hari saat jaringan lebih stabil, lalu mempelajarinya secara luring. Cara ini efektif karena saya bisa mengulang penjelasan sesuka hati tanpa tekanan kelas.
Pendidikan online juga membuka akses ke sumber belajar yang sebelumnya tidak terjangkau. Saya bisa mengikuti webinar dari universitas ternama, mengakses modul gratis dari platform seperti Rumah Belajar Kemendikbud, atau bahkan ngikutin kursus singkat keterampilan praktis. Misalnya, saya belajar dasar-dasar desain grafis melalui video tutorial YouTube dan langsung mempraktikkannya untuk proyek organisasi kampus. Ilmu itu nyata, bukan sekadar teori.
Tentu ada tantangan lain. Kurangnya interaksi langsung dengan teman dan dosen. Diskusi di forum sering terasa hambar karena jeda waktu balasan. Tapi saya mengatasinya dengan aktif di grup WhatsApp dan membuat jadwal belajar bareng secara virtual. Komunikasi yang efektif justru terasah di situ. Saya harus menyusun pertanyaan dengan jelas agar diskusi tidak bertele-tele. Keahlian ini ternyata berguna ketika saya mulai melamar pekerjaan dan mengikuti wawancara daring.
Bagi mahasiswa dari daerah dengan keterbatasan infrastruktur, kunci sukses belajar online bukanlah perangkat mahal, melainkan tekad dan strategi. Saya selalu memastikan materi yang paling penting diunduh lebih dulu, membuat catatan ringkas, dan rutin mengevaluasi progres belajar. Jangan nunggu kondisi ideal, karena mungkin tidak akan pernah tiba. Mulailah dari apa yang ada.
Pengalaman enam tahun ini mengajarkan bahwa pendidikan online adalah alat yang demokratis. Selama ada kemauan, ilmu bisa diakses dari mana saja, termasuk dari teras rumah di Sugapa. Perjalanan masih panjang, tapi setidaknya internet telah menjadi jembatan yang menghubungkan mimpi saya dengan kesempatan Versi lebih panjang di pendidikan.

Bahan bacaan: sumber resmi